
TANGERANG — Debit air Situ Cangkring, Kelurahan Periuk Jaya, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, terus menyusut akibat kemarau panjang. Kondisi itu memicu ribuan ikan mabuk hingga mati massal sejak Rabu (9/9/2026) hingga hari ini, Kamis (10/9/2026).
Sekretaris RW 02 Periuk Jaya, Abdul Latif Romdoni mengatakan, warga mulai melihat ikan bergerak tidak normal sejak Rabu malam. Kondisi semakin parah pada Kamis pagi sekitar pukul 08.00 WIB.
“Pagi, sebenarnya dari malam itu sudah mulai mabuk,” kata Latif.
Menurut Latif, ikan berukuran besar paling banyak mati. Ikan-ikan tersebut biasanya hidup di dasar situ dan naik ke permukaan ketika kondisi air dan oksigen berubah.
“Yang mati itu hanya ikan-ikan yang besar yang ada di dasar, yang biasa main di dasar Situ Cangkring,” ujarnya.
Latif menduga, kemarau panjang dan penyusutan air membuat kondisi situ semakin buruk. Suhu udara yang tinggi juga memperparah kondisi perairan.
“Air tuh benar-benar surut karena suhu panas kalau saya bicara ya. Jadi ikan yang biasa main di bawah pada ke atas,” katanya.
Fenomena itu kemudian menarik warga untuk menangkap ikan yang mabuk di tepian situ. Warga bahkan membawa pulang ikan dalam jumlah besar untuk dijual maupun dikonsumsi.
“Kalau bicara berapa jumlahnya, mungkin sudah masuk tonan ya, bukan kuintalan,” ujar Latif.
Namun, ikan yang tidak sempat warga tangkap akhirnya mati dan mengambang di permukaan situ. Bangkai ikan memenuhi sejumlah bagian perairan di Jalan Moh. Toha pada Kamis pagi.
Irfan, warga yang datang ke lokasi, menduga ikan mati karena kekurangan oksigen.
“Ini ikan yang pada mati tadi pagi saya rekam. Kayaknya sih karena kekurangan oksigen,” katanya.
Sementara, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang belum memastikan penyebab kematian massal tersebut.
Kepala DLH Kota Tangerang, Yudi Pradana mengatakan, timnya sudah turun mengambil sampel air dan ikan.
“Sudah, tim kita lagi turun ke lokasi. Kita nunggu hasilnya dulu ya,” kata Yudi.
DLH kini menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan apakah kematian ikan hanya berkaitan dengan suhu dan penyusutan air atau ada paparan zat lain.
Yudi juga meminta warga tidak mengonsumsi ikan dari Situ Cangkring sampai hasil pemeriksaan keluar.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi ikan tersebut karena kami masih menunggu hasil dari uji lab,” tegasnya.
Penulis : Mg-Dwi Muksin Yulianto
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd