Beranda Ramadan Manfaat Kurma untuk Berbuka Puasa: Manis Alami yang Penuh Khasiat

Manfaat Kurma untuk Berbuka Puasa: Manis Alami yang Penuh Khasiat

Ilustrasi - foto istimewa travellingyuk.com

BULAN RAMADAN identik dengan satu sunnah yang sederhana namun penuh makna: berbuka puasa dengan kurma. Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam sekaligus didukung oleh ilmu kesehatan modern. Di balik rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut, kurma menyimpan berbagai manfaat luar biasa bagi tubuh setelah seharian menahan lapar dan dahaga.

Setelah berpuasa sekitar 12 hingga 14 jam, kadar gula darah dalam tubuh cenderung menurun. Kondisi ini membuat tubuh terasa lemas dan kurang bertenaga. Kurma mengandung gula alami seperti glukosa dan fruktosa yang mudah diserap oleh tubuh. Karena itu, mengonsumsi kurma saat berbuka dapat dengan cepat mengembalikan energi tanpa membuat sistem pencernaan bekerja terlalu berat. Inilah sebabnya kurma menjadi pilihan ideal untuk “membangunkan” tubuh secara perlahan sebelum menyantap makanan utama.

Selain sebagai sumber energi cepat, kurma juga kaya akan serat. Kandungan serat ini membantu sistem pencernaan bekerja lebih baik setelah seharian beristirahat. Banyak orang mengalami gangguan pencernaan saat Ramadan karena perubahan pola makan. Mengonsumsi kurma dapat membantu mencegah sembelit serta menjaga kesehatan usus tetap optimal.

Tak hanya itu, kurma mengandung berbagai vitamin dan mineral penting seperti kalium, magnesium, zat besi, serta vitamin B kompleks. Kalium berperan dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh dan fungsi otot, sementara zat besi membantu mencegah anemia yang bisa menyebabkan tubuh mudah lelah. Kombinasi nutrisi ini menjadikan kurma sebagai makanan kecil yang padat gizi.

Keunggulan lainnya adalah indeks glikemik kurma yang relatif moderat dibandingkan gula olahan. Meski rasanya manis, kurma tidak menyebabkan lonjakan gula darah setajam minuman manis berbahan gula tambahan. Hal ini membuatnya lebih aman dan stabil untuk dikonsumsi saat berbuka, tentu dalam jumlah yang wajar.

Baca Juga :  Resep Kering Kentang Renyah dan Tahan Lama Ini Bisa Jadi Menu Sahur

Dari sisi spiritual, berbuka dengan kurma juga meneladani kebiasaan Nabi Muhammad SAW. Sunnah ini bukan hanya bernilai ibadah, tetapi juga menunjukkan kebijaksanaan dalam memilih makanan pertama setelah puasa. Tradisi tersebut kini terbukti sejalan dengan prinsip kesehatan modern.

Namun demikian, konsumsi kurma tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Tiga butir kurma sudah cukup untuk mengawali berbuka sebelum dilanjutkan dengan air putih dan makanan utama. Terlalu banyak mengonsumsi makanan manis, termasuk kurma, tetap berpotensi meningkatkan asupan kalori berlebih.

Pada akhirnya, kurma bukan sekadar hidangan pembuka, melainkan simbol keseimbangan antara nilai ibadah dan kesehatan. Dengan memilih kurma sebagai menu awal berbuka, kita tidak hanya mengikuti sunnah, tetapi juga memberi tubuh asupan terbaik untuk kembali berenergi dan siap menjalani ibadah malam dengan lebih optimal.