Beranda Ramadan Anak Rewel Saat Pertama Puasa: Wajar, Tapi Perlu Pendekatan Tepat

Anak Rewel Saat Pertama Puasa: Wajar, Tapi Perlu Pendekatan Tepat

Ilustrasi - foto istimewa prelo.co.id

MOMEN pertama kali anak belajar berpuasa sering kali menjadi pengalaman yang tak terlupakan, baik bagi anak maupun orang tua. Ada rasa bangga karena si kecil mulai belajar menjalankan ibadah, tetapi juga ada tantangan ketika ia mulai rewel, mudah marah, atau mengeluh lapar dan haus sepanjang hari. Kondisi ini sebenarnya wajar. Tubuh dan emosi anak sedang beradaptasi dengan perubahan pola makan dan jam istirahat yang berbeda dari biasanya.

Bagi anak, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia sedang belajar mengelola rasa tidak nyaman yang sebelumnya jarang ia rasakan. Ketika perut kosong lebih lama dari biasanya, kadar gula darah bisa menurun sehingga memengaruhi suasana hati. Anak menjadi lebih sensitif, cepat tersinggung, bahkan menangis tanpa sebab yang jelas. Orang tua perlu memahami bahwa rewel di masa awal puasa bukan tanda anak manja, melainkan bagian dari proses belajar.

Salah satu kunci menghadapi anak rewel saat pertama puasa adalah mengatur ekspektasi. Jangan langsung menuntut anak berpuasa penuh seharian jika usianya masih kecil atau baru pertama mencoba. Metode puasa bertahap bisa menjadi solusi, misalnya puasa setengah hari atau hingga waktu zuhur. Dengan cara ini, anak merasa mampu dan tidak terbebani. Pengalaman yang menyenangkan di awal akan membangun kepercayaan dirinya untuk mencoba lebih lama di hari berikutnya.

Peran sahur juga sangat penting. Pastikan anak mendapatkan asupan bergizi seimbang yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, serat, dan cukup cairan. Menu yang menarik dan disukai anak dapat membantu suasana sahur menjadi lebih ceria. Hindari makanan terlalu manis karena dapat membuat anak cepat lapar di siang hari. Sahur yang berkualitas membantu menjaga energi dan emosi anak tetap stabil.

Baca Juga :  Akomodir Petani, DPD PKS Lebak Luncurkan Pasar Tani

Selain itu, alihkan perhatian anak dari rasa lapar dengan kegiatan yang menyenangkan. Menggambar, membaca buku cerita Islami, menonton tayangan edukatif, atau membantu menyiapkan menu berbuka bisa membuat waktu terasa lebih cepat. Aktivitas ringan juga membantu anak tidak terlalu fokus pada rasa haus atau lelah. Namun tetap perhatikan kondisi fisiknya, jangan memaksakan aktivitas berat di bawah terik matahari.

Yang tak kalah penting adalah pendekatan emosional. Berikan apresiasi sekecil apa pun usaha anak. Kalimat sederhana seperti “Ibu bangga kamu sudah kuat sampai siang” dapat menjadi suntikan semangat yang luar biasa. Hindari membandingkan dengan saudara atau teman yang mungkin mampu berpuasa lebih lama. Setiap anak memiliki kesiapan fisik dan mental yang berbeda.

Jika anak terlihat sangat lemas, pucat, atau mengeluh pusing berlebihan, orang tua perlu bijak mempertimbangkan untuk menghentikan puasanya hari itu. Kesehatan tetap menjadi prioritas utama. Tujuan utama di usia dini adalah mengenalkan makna puasa secara bertahap, bukan memaksakan kesempurnaan.

Pada akhirnya, rewel di hari-hari pertama adalah bagian dari proses adaptasi. Dengan kesabaran, komunikasi yang hangat, dan strategi yang tepat, pengalaman puasa pertama bisa menjadi kenangan indah bagi anak. Dari situlah nilai-nilai ketahanan, disiplin, dan makna ibadah perlahan tertanam dalam dirinya, tumbuh seiring waktu dan dukungan penuh dari orang tua.

Tim Redaksi