Beranda Ramadan Bijak Memilih Takjil: Antara Lapar Mata dan Kesehatan

Bijak Memilih Takjil: Antara Lapar Mata dan Kesehatan

Ilustrasi - (Foto istimewa)

MENJELANG waktu berbuka, suasana sore di bulan Ramadan selalu terasa istimewa. Deretan pedagang takjil memenuhi pinggir jalan, aroma gorengan mengepul, warna-warni es buah dan kolak menggoda siapa saja yang melintas. Dalam kondisi perut kosong setelah seharian berpuasa, godaan itu terasa berlipat. Tak sedikit orang yang akhirnya membeli hampir semua yang terlihat menarik, tanpa sempat mempertimbangkan apakah jajanan tersebut aman dan sehat untuk dikonsumsi.

Padahal, berbuka puasa bukan sekadar soal melepas lapar dan dahaga. Tubuh yang telah beristirahat dari asupan makanan selama belasan jam membutuhkan asupan yang tepat agar sistem pencernaan tidak “kaget”. Memilih takjil secara bijak menjadi langkah awal menjaga stamina dan kualitas ibadah sepanjang Ramadan.

Hal pertama yang patut diperhatikan adalah kebersihan. Takjil yang diletakkan terbuka tanpa penutup rentan terkena debu dan dihinggapi lalat. Kondisi lingkungan sekitar lapak juga bisa menjadi indikator awal keamanan makanan. Pedagang yang menjaga kebersihan peralatan, menggunakan penjepit makanan, dan menyimpan dagangan dalam wadah tertutup biasanya lebih memperhatikan kualitas jualannya. Detail kecil seperti ini sering kali luput karena kita terlalu fokus pada rasa lapar.

Selain kebersihan, tampilan makanan juga perlu dicermati. Warna yang terlalu mencolok atau tidak alami patut menimbulkan kewaspadaan. Hijau yang terlampau terang atau merah menyala bisa saja berasal dari pewarna berbahaya. Begitu pula tekstur yang terlalu kenyal atau tidak wajar. Memilih makanan dengan warna dan aroma alami jauh lebih aman dibanding tergoda tampilan yang berlebihan.

Ramadan juga identik dengan makanan manis. Kolak, es campur, sirup, dan aneka minuman kekinian menjadi primadona. Rasa manis memang cepat mengembalikan energi, namun konsumsi gula berlebihan justru dapat membuat tubuh lemas dan mengantuk setelah berbuka. Gula darah yang melonjak tajam akan turun dengan cepat, memicu rasa tidak nyaman. Karena itu, tak ada salahnya menyeimbangkan pilihan dengan buah segar atau kurma yang mengandung gula alami dan serat yang lebih baik bagi tubuh.

Baca Juga :  Harga Pangan Terdampak MBG, DPRD Banten Minta Pemprov Turun Tangan

Gorengan pun hampir tak pernah absen dari meja takjil. Rasanya yang gurih dan renyah sulit ditolak. Namun minyak yang digunakan berulang kali dapat meningkatkan kadar lemak jenuh dan berdampak pada pencernaan. Mengonsumsi gorengan secara berlebihan saat perut kosong sering membuat perut terasa begah dan tidak nyaman saat salat tarawih. Menikmati secukupnya tentu tidak masalah, selama tidak menjadikannya menu utama setiap hari.

Di tengah semarak berburu takjil, kita juga perlu menahan diri dari “lapar mata”. Sering kali kita membeli dalam jumlah berlebihan hanya karena khawatir kehabisan atau tergoda tampilan yang menarik. Akhirnya makanan terbuang sia-sia atau justru dikonsumsi melampaui kebutuhan. Ramadan sejatinya mengajarkan pengendalian diri, termasuk dalam urusan memilih dan mengonsumsi makanan.

Memilih takjil yang aman dan sehat sesungguhnya adalah bentuk syukur atas nikmat berbuka. Dengan lebih teliti dan tidak tergesa-gesa, kita dapat menikmati hidangan berbuka tanpa rasa khawatir. Tubuh pun tetap terjaga, sehingga ibadah malam bisa dijalani dengan nyaman dan penuh kekhusyukan. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang belajar bijak dalam setiap pilihan, termasuk saat menentukan apa yang masuk ke dalam tubuh kita.

Tim Redaksi