SERANG– Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) resmi menggelar Grand Launching Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), di Ruang Multimedia Gedung Rektorat Lantai 1 Kampus Sindangsari, Jumat (13/2/2026). Peluncuran ini menjadi tonggak baru komitmen Untirta dalam menjawab krisis kebutuhan dokter spesialis di Provinsi Banten.
Rektor Untirta, Fatah Sulaiman, menyampaikan proses seleksi calon peserta PPDS direncanakan dimulai pada Juni 2026, dengan tahapan tes potensi akademik dan wawancara. Perkuliahan perdana akan dimulai pada tahun ajaran baru.
“Insya Allah bulan Juni kita mulai seleksi. Semua tahapan sudah kami siapkan, termasuk SDM dan fasilitas pendukung,” ujar Fatah.
Dalam penyelenggaraannya, Untirta menggandeng Universitas Padjadjaran (Unpad) sebagai perguruan tinggi pembina yang telah ditunjuk Kementerian. Kolaborasi ini menjadi bagian dari program nasional pemerataan pendidikan dokter spesialis berbasis wilayah.
Fatah menegaskan, dukungan sumber daya manusia telah dipastikan, dengan melibatkan dokter-dokter spesialis dari berbagai rumah sakit yang menjadi rumah sakit pendidikan dan jejaring. Pemerintah daerah pun telah menyatakan komitmennya, termasuk membuka peluang skema beasiswa melalui APBD.
Tak hanya membuka pendidikan spesialis, Untirta juga menyiapkan langkah besar melalui inovasi pembangunan rumah sakit riset berbasis potensi penyakit turunan akibat aktivitas industri di Banten. “Ini akan menjadi pusat riset rumah sakit yang belum dimiliki daerah lain,” ujarnya.
Rektor Fatah berharap program ini mendapat dukungan luas dari seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota se-Banten.
“Harapan kami, ini menjadi gerakan bersama. Lulusannya kembali mengabdi di Banten dan memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Dekan FKIK Untirta, Omat Rachmat, menjelaskan bahwa PPDS tahap awal akan membuka enam program studi spesialis dasar, yakni Bedah, Ilmu Kesehatan Anak, Obstetri dan Ginekologi, Radiologi, Anestesi dan Terapi Intensif, Ortopedi dan Traumatologi
Sementara Ilmu Penyakit Dalam masih dalam tahap penyiapan akhir SDM.
Menurut Omat, pemilihan spesialisasi tersebut berdasarkan kebutuhan riil di Banten yang berpenduduk sekitar 13–14 juta jiwa. Ia mengungkapkan masih banyak rumah sakit di Banten yang belum memiliki dokter spesialis lengkap.
“Kami akan bekerja sama dengan rumah sakit pemerintah maupun swasta. SDM mereka dikirim untuk dididik di Untirta, setelah lulus kembali bertugas di rumah sakit asalnya. Jadi jelas penempatannya dan langsung menjadi solusi atas kekurangan dokter spesialis,” jelasnya.
Untuk menjamin kualitas, setiap program studi minimal didukung lima subspesialis berbeda. Bahkan, beberapa prodi telah memiliki lebih dari sepuluh subspesialis, melibatkan dokter-dokter terbaik di Banten. RSUD Banten akan menjadi rumah sakit pendidikan utama, dengan dukungan rumah sakit jejaring lainnya.
Terkait pembiayaan, Untirta menyiapkan berbagai skema, mulai dari beasiswa pusat seperti LPDP, kerja sama pembiayaan dengan rumah sakit melalui perjanjian kerja sama (PKS), hingga dukungan pemerintah daerah.
“Sebagian besar bukan dibiayai mandiri oleh perorangan, tetapi oleh institusi rumah sakit atau pemerintah daerah. Karena setelah lulus, mereka kembali melayani di daerahnya,” terang Omat.
Ia beeharap Plprogram PPDS ini berdampak langsung pada peningkatan kualitas layanan kesehatan di Banten. Menurut Omat, pelayanan rumah sakit sangat bergantung pada ketersediaan dokter spesialis.
“Kalau dokter spesialisnya tidak ada, pelayanan tidak akan maksimal. Jadi kontribusi nyata kami adalah mendidik, lalu mengembalikan mereka ke rumah sakit masing-masing. Masyarakat akan langsung merasakan peningkatan layanan,” ujarnya.
Untirta juga menaruh perhatian khusus pada wilayah Banten Selatan yang masih minim tenaga spesialis. Ke depan, daerah tersebut akan menjadi prioritas pengiriman dan penempatan lulusan.
Penulis : Ade Faturohman
Editor : TB Ahmad Fauzi
