Beranda Komunitas Deru Mesin di Royal Baroe: Saat Komunitas Otomotif Menyeduh Kopi dan Menjaga...

Deru Mesin di Royal Baroe: Saat Komunitas Otomotif Menyeduh Kopi dan Menjaga Etika di Kota Serang

Acara Car Meet Up yang digelar komunitas pecinta otomotif Sobat Mandala Racing (SMR) Team, Jumat (6/2/2026) di Kota Serang

SERANG – Malam Jumat itu, kawasan Royal Baroe di jantung Kota Serang tak dipenuhi raungan knalpot atau manuver liar. Justru sebaliknya, deretan mobil berkilau terparkir rapi, lampu-lampu kota memantul di bodi kendaraan yang dimodifikasi dengan selera masing-masing. Udara malam diisi obrolan hangat, tawa ringan, dan aroma kopi yang perlahan menyatu dengan suasana.

Inilah Car Meet Up yang digelar komunitas pecinta otomotif Sobat Mandala Racing (SMR) Team, Jumat (6/2/2026). Sekitar 100 mobil dari berbagai daerah—Jakarta, Bandung, hingga Cilegon—berkumpul bukan untuk adu kecepatan, melainkan untuk merayakan hobi dengan cara yang lebih dewasa dan beretika. Tujuannya sederhana namun bermakna: memperkenalkan Royal Baroe sebagai destinasi wisata baru, sekaligus meruntuhkan stigma negatif terhadap dunia otomotif.

Ketua pelaksana kegiatan, Rizki Mandala, menyebut acara ini lahir dari kegelisahan yang sama dirasakan banyak penggemar mobil modifikasi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa otomotif itu bisa santai, rapi, dan menyenangkan. Bukan identik dengan kebisingan atau ugal-ugalan,” katanya.

Konsep acara dibuat tanpa hingar-bingar. Mesin dimatikan, mobil ditata tertib, lalu diabadikan dalam dokumentasi video sinematik. Setelah itu, para peserta berkumpul menikmati kopi, berbagi cerita soal modifikasi, hingga membangun jejaring antarkomunitas. Tak ada kompetisi, tak ada piala.

“Semua mobil bagus dengan karakternya masing-masing. Ini soal apresiasi, bukan penilaian,” ujar Rizki.

Deretan kendaraan yang hadir menjadi etalase kecil dunia otomotif. Sedan, Honda Brio, Innova, Force, hingga mobil-mobil Eropa tampil percaya diri tanpa perlu saling menonjolkan diri. Bagi mereka, otomotif adalah gaya hidup—tentang kebersamaan dan cara menikmati waktu dengan positif.

Pesan etika juga terasa kuat. Rizki menegaskan bahwa stigma negatif terhadap komunitas otomotif kerap muncul akibat ulah segelintir oknum.

Baca Juga :  Gawekuta Institute Bahas Ekosistem Ekonomi Digital

“Tidak semuanya seperti itu. Kami ingin membuktikan bahwa komunitas otomotif bisa menjadi contoh,” katanya.

Suasana malam itu kian bermakna dengan kehadiran Wali Kota Serang, Budi Rustandi, yang menyempatkan diri menyapa para peserta. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi langkah komunitas otomotif yang mampu mengemas hobi menjadi kegiatan edukatif sekaligus berdaya tarik wisata.
“Gas boleh diinjak, tapi ingat rem. Kecepatan boleh, tapi adab tetap di depan,” pesannya, disambut anggukan para peserta.

Menurut Budi, keselamatan dan etika berlalu lintas adalah tanggung jawab bersama. Ia bahkan meyakini komunitas otomotif dapat menjadi teladan di jalan raya.

“Ketika komunitas memberi contoh yang baik, masyarakat akan ikut. Jika komunitas tertib, Kota Serang akan menjadi aman dan nyaman,” ujarnya.

Pemerintah Kota Serang, lanjutnya, terbuka dan mendukung penuh kegiatan komunitas yang positif. Car Meet Up Royal Baroe diharapkan bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga ruang kampanye keselamatan berkendara dan etika berlalu lintas.

Bagi Royal Baroe sendiri, yang masih dalam tahap evaluasi dan pengembangan, malam itu menjadi suntikan semangat. Kehadiran ratusan pecinta otomotif menunjukkan potensi kawasan ini sebagai magnet wisata baru.

“Semoga ini menjadi penyemangat kami untuk menjadikan Royal Baroe destinasi yang digemari, bukan hanya warga Serang, tetapi masyarakat dari berbagai daerah, bahkan se-Indonesia,” kata Budi.

Di Royal Baroe, deru mesin memang ada—namun yang lebih terasa adalah pesan: otomotif bisa berjalan seiring dengan kopi, kebersamaan, dan etika. Sebuah wajah lain dunia otomotif yang jarang terlihat, namun malam itu hadir utuh di Kota Serang.

Penulis: Ade Faturohman
Editor: Usman Temposo