Beranda Pemerintahan Tangani Banjir di Banten, Gubernur Andra Soni Tegaskan Bukan Sekadar Memindahkan Air

Tangani Banjir di Banten, Gubernur Andra Soni Tegaskan Bukan Sekadar Memindahkan Air

Gubernur Banten Andra Soni bersama Bupati Tangerang saat meninjau lokasi banjir di Perumahan Villa Tomang Baru. (Foto: Saepulloh/BantenNews.co.id)

KAB. TANGERANG – Gubernur Banten Andra Soni menegaskan bahwa penanganan banjir di wilayah Provinsi Banten tidak bisa dilakukan hanya dengan memindahkan genangan air dari kawasan permukiman. Menurutnya, dibutuhkan langkah komprehensif agar alur air kembali ke jalur yang semestinya.

“Sehingga bukan memindahkan air, tetapi benar-benar air itu menuju ke jalur yang benarnya,” kata Andra saat meninjau lokasi banjir di Perumahan Villa Tomang Baru, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Sabtu (24/1/2026).

Lokasi yang dikunjungi merupakan salah satu titik banjir yang berbatasan langsung dengan Situ Gelam, kawasan resapan air yang terhubung langsung dengan Sungai Cirarap.

Berdasarkan hasil peninjauan bersama, Andra menyebutkan bahwa salah satu persoalan utama yang harus segera ditangani adalah normalisasi Sungai Cirarap. Sungai tersebut melintasi dua wilayah administrasi, yakni Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang.

Ia juga menyoroti adanya tembok pembatas perumahan yang langsung berbatasan dengan Situ Gelam. Padahal, sesuai ketentuan, seharusnya terdapat jarak sekitar 20 meter antara kawasan situ dan bangunan permukiman.

“Namun kenyataannya berbatasan langsung dengan tembok. Nah, ini yang harus kita selesaikan dan kerjakan. Poin sederhananya, yang utama adalah menormalisasi alur-alur air,” ujarnya.

Diketahui, banjir melanda Perumahan Villa Tomang Baru sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari, 23–24 Januari 2026. Genangan air terjadi di RW 14, RW 15, RW 17, dan RW 18 dengan ketinggian bervariasi antara 30 hingga 110 sentimeter.

Di RW 14 dan RW 15, banjir setinggi 30–80 sentimeter merendam sedikitnya 158 kepala keluarga (KK). Sementara di RW 17, ketinggian air mencapai 90–110 sentimeter, berdampak pada 25 KK dan menyebabkan 20 warga mengungsi ke Mushola Al-Mujahidin.

Adapun di RW 18, genangan setinggi 30–70 sentimeter merendam 30 KK. Warga memanfaatkan balai warga sebagai lokasi antisipasi sementara. Banjir tersebut diduga dipicu oleh tanggul perumahan yang berbatasan langsung dengan Situ Gelam yang jebol.

Baca Juga :  PLN UID Banten Tanggap Pulihkan Kelistrikan Pasca Banjir di Banten

Oleh karena itu, Andra menegaskan bahwa penanganan banjir memerlukan kolaborasi lintas daerah dan lintas instansi, termasuk dengan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, setelah meninjau sejumlah titik banjir di beberapa wilayah Provinsi Banten.

“Sehingga kita memiliki frame yang sama terkait apa permasalahannya dan bagaimana cara mengatasinya,” tandasnya.

Penulis: Saepulloh
Editor: Usman Temposo