CILEGON – Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon mengakui keterbatasan kemampuan dan pengetahuan dalam menangani persoalan banjir yang belakangan kerap melanda wilayahnya. Untuk itu, Pemkot berencana menggandeng akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) guna merumuskan penanganan banjir secara komprehensif dan berbasis keilmuan.
Dalam beberapa pekan terakhir, hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan banjir di sejumlah wilayah Kota Cilegon. Tercatat, sejak awal Januari 2026 banjir terjadi di tiga kecamatan, yakni Ciwandan, Cibeber, dan Jombang.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cilegon, Ahmad Aziz Setia Ade Putra, mengatakan penanganan banjir tidak bisa lagi dilakukan hanya berdasarkan pengalaman lapangan semata.
“Untuk menyelesaikan atau menanggulangi banjir di Cilegon ini tidak bisa hanya kita-kita saja yang pengetahuannya terhadap banjir itu terbatas,” kata Aziz usai rapat koordinasi penanggulangan banjir di Aula Setda Cilegon, Rabu (14/1/2026).
Ia menjelaskan, selama ini upaya penanganan banjir dilakukan berdasarkan asumsi umum, seperti tingginya curah hujan, kerusakan di wilayah hulu, penyempitan drainase, sedimentasi, ukuran gorong-gorong yang tidak memadai, hingga aliran ke laut yang sempit.
“Hari ini mungkin kita hanya berdasarkan berbagai pengalaman. Misalnya banjir diakibatkan curah hujan tinggi, hulunya rusak, bagian tengah terjadi penyempitan drainase, ada sedimentasi, gorong-gorong kecil, dan aliran ke laut yang sempit,” ujarnya.
Menyadari keterbatasan tersebut, Pemkot Cilegon berinisiatif menggandeng tenaga ahli dari kalangan akademisi yang dinilai memiliki kompetensi dan keilmuan yang lebih mendalam.
“Tentunya kita ingin menggandeng tenaga ahli, khususnya akademisi yang lebih qualified. Kita akan menggandeng tenaga ahli dari Institut Teknologi Bandung yang diharapkan secara holistik bisa memetakan penanganan banjir di Cilegon agar benar-benar tuntas sesuai keilmuannya,” ungkap Aziz.
Ia menambahkan, Pemkot Cilegon telah menyiapkan anggaran untuk mendukung riset dan kajian yang akan dilakukan oleh akademisi ITB. Namun, terkait besaran anggaran tersebut, ia menyarankan untuk mengonfirmasi langsung kepada Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappedalitbang).
“Anggarannya sudah disiapkan. Apa saja yang akan dikaji nanti tinggal menyesuaikan kebutuhan. Saat ini fokusnya pada analisis kebencanaan banjir. Untuk detail anggaran bisa ditanyakan ke Bappeda,” tutupnya.
Penulis: Maulana
Editor: Usman Temposo
