BANYAK orang mengira daya ingat jangka panjang adalah bakat bawaan. Padahal, riset neurosains menunjukkan bahwa memori lebih banyak dibentuk oleh kebiasaan dibanding genetik. Studi dari UCLA bahkan menemukan bahwa otak anak mampu menyimpan informasi hingga tiga kali lebih lama saat mereka memprosesnya melalui lebih dari satu indera — misalnya melihat sambil menjelaskan, atau mendengar sambil melakukan praktik langsung. Artinya, menghafal tidak cukup; anak perlu mengalami informasi tersebut.
Dalam keseharian, kita sering melihat anak lupa meletakkan barang, sulit mengingat pelajaran, atau kesulitan menceritakan kembali sesuatu yang baru saja mereka dengar. Ini bukan tanda kurang cerdas. Sederhananya, otak mereka belum menemukan alasan untuk menyimpan informasi tersebut. Dengan pendekatan santai dan relevan, berikut tujuh cara sederhana namun sangat efektif untuk membangun memori jangka panjang anak.
1. Hubungkan Informasi dengan Pengalaman Nyata
Ketika anak belajar tentang makanan sehat, ajak mereka mengingat pengalaman: merasa lebih segar setelah makan buah, atau lemas setelah terlalu banyak gula. Kaitannya membuat otak menganggap informasi itu penting dan layak disimpan.
Lama-kelamaan, anak akan mulai menghubungkan informasi baru dengan pengalaman sebelumnya. Orang tua bisa memperluas latihan ini sesuai kebutuhan.
2. Ubah Informasi Menjadi Cerita
Otak jauh lebih mudah mengingat cerita dibanding daftar kata. Misalnya, saat menghafal urutan planet, buat kisah petualangan seorang tokoh yang singgah dari satu planet ke planet lain. Narasi memberi alur dan imajinasi, sehingga memori lebih bertahan lama.
Anak juga bisa dilatih membuat cerita mereka sendiri untuk mengingat konsep tertentu.
3. Terapkan Pengulangan Berselang Waktu (Spaced Repetition)
Saat anak mempelajari kosakata baru, ulangi beberapa jam kemudian, lalu keesokan harinya. Pola ini mengirim sinyal ke otak bahwa informasi tersebut penting. Pengulangan berselang waktu terbukti efektif memperkuat memori jangka panjang.
Kebiasaan ini membuat anak lebih cepat memahami materi tanpa belajar berjam-jam.
4. Libatkan Banyak Indera Saat Belajar
Belajar tentang tumbuhan tidak cukup hanya membaca definisinya. Ajak anak menyentuh daun, mencium aromanya, atau menggambar bentuknya. Aktivasi multisensori membuat otak menyimpan memori lebih dalam karena sensasinya kaya dan mudah diingat.
5. Minta Anak Menjelaskan Kembali dengan Bahasa Sendiri
Setelah membaca atau menerima informasi baru, minta anak menjelaskannya dengan kata-kata mereka. Proses menyusun ulang informasi memaksa otak bekerja lebih terstruktur — hasilnya, memori menjadi lebih kuat.
Kebiasaan ini sekaligus melatih logika dan kemampuan komunikasi.
6. Bangun Emosi Positif dalam Proses Belajar
Emosi berperan besar dalam penyimpanan memori. Saat anak merasa senang, dihargai, atau bangga, tubuh melepaskan bahan kimia yang memperkuat jaringan memori. Apresiasi kecil atas usaha mereka sangat membantu menumbuhkan asosiasi positif terhadap belajar.
7. Tetapkan Rutinitas Belajar yang Konsisten
Otak menyukai pola. Jika jam belajar berubah-ubah, kemampuan memori menjadi kacau. Namun dengan rutinitas yang konsisten, meski hanya 15 menit per hari, otak terlatih untuk “mode menyimpan informasi” pada waktu yang sama.
Kebiasaan kecil ini membuat proses mengingat jauh lebih ringan dan alami.
Tim Redaksi
