Beranda Budaya Kasus Pembegalan Belum Terungkap, Warga Baduy Ancam Abaikan Kunjungan Kepolisian

Kasus Pembegalan Belum Terungkap, Warga Baduy Ancam Abaikan Kunjungan Kepolisian

Repan, warga Baduy korban pembegalan saat dirawat di rumah sakit. (Foto: Sandi Sudrajat/BantenNews.co.id)

LEBAK – Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, menyoroti lambannya penanganan kasus pembegalan terhadap Repan (16), warga Baduy Dalam, yang terjadi di Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Peristiwa tersebut terjadi pada 26 Oktober 2025 di Jalan Pramuka Rawasari. Saat itu, Repan yang berjualan madu dihadang empat orang tak dikenal. Pelaku merampas uang, madu, dan telepon genggam milik korban. Repan sempat melawan hingga mengalami luka pada bagian tangan.

Kepala Desa Kanekes, Oom, menyampaikan bahwa sudah lebih dari satu bulan keluarga korban dan masyarakat adat Baduy tidak memperoleh penjelasan perkembangan penyelidikan dari kepolisian. Ia menilai aparat belum menunjukkan keseriusan mengungkap pelaku.

“Kami bersama tetua adat Baduy sangat kecewa dengan lambannya penanganan kasus Repan. Jika kasus ini tidak terungkap dan tidak ada informasi penangkapan pelaku, pihak adat kemungkinan akan mengabaikan kunjungan kepolisian ke Baduy. Itu bentuk kekecewaan kami,” ujar Oom kepada awak media, Minggu (30/11/2025).

Menurutnya, pihak kepolisian berdalih penyelidikan terkendala minimnya bukti karena tidak ada saksi mata, tidak tersedia rekaman CCTV, dan korban tidak dapat mengingat ciri-ciri pelaku. Meski begitu, warga Baduy tetap berharap kasus ini dituntaskan. Pihak Desa Kanekes juga berencana menggelar audiensi ke Polda Banten untuk meminta kejelasan dan percepatan penanganan.

“Selasa nanti kami akan audiensi ke Polda Banten untuk meminta bantuan meneruskan kasus ini ke Polda Metro. Selama ini baru ditangani Polres,” tambahnya.

Oom juga membantah isu yang menyebut warga Baduy akan turun ke Jakarta untuk berdemo.

“Itu hoaks. Orang Baduy tidak pernah melakukan aksi anarkis atau demonstrasi. Kami hanya berharap pelaku segera ditangkap,” tegasnya.

Ia menambahkan, komunikasi antara pihaknya dan kepolisian, baik Polres maupun Polsek di Jakarta Pusat, sangat minim. Sudah hampir sepekan tidak ada informasi perkembangan penyelidikan.

Baca Juga :  Kisah Cornelis de Houtman dari Gouda (1)

“Seolah-olah tidak ada tindak lanjut. Padahal polisi punya alat untuk melacak telepon genggam korban yang ikut dirampas,” ucapnya.

Penulis: Sandi Sudrajat
Editor: Usman Temposo