DI TENGAH maraknya pembahasan tentang fenomena fobia yang tak biasa, istilah heksakosioiheksekontaheksafobia menjadi salah satu yang menarik perhatian. heksakosioiheksekontaheksafobia
merupakan kata terpanjang dalam bahasa Indonesia Nama fobia ini panjang, sulit diucapkan, dan jarang ditemui dalam percakapan sehari-hari. Namun di balik kerumitan istilah tersebut, terdapat fenomena linguistik menarik tentang bagaimana bahasa Indonesia menyerap dan menafsirkan istilah asing yang kompleks.
Heksakosioiheksekontaheksafobia merujuk pada ketakutan ekstrem terhadap angka 666, angka yang dalam berbagai budaya dianggap memiliki muatan simbolik negatif. Dalam konteks linguistik, istilah ini dapat dilihat sebagai bentuk serapan yang datang tanpa proses adaptasi berarti. Kata yang seluruh unsur pembentuknya berasal dari bahasa Yunani ini langsung masuk ke dalam khazanah kosakata Indonesia, terutama di ranah akademik dan media.
Secara morfologis, istilah ini terdiri dari gabungan sejumlah morfem yang mewakili angka “enam”, “enam puluh”, “enam ratus”, serta kata phobos yang berarti ketakutan. Kombinasi tersebut membentuk satu istilah panjang yang tidak lazim bagi struktur kata dalam bahasa Indonesia, yang umumnya lebih ringkas. Kompleksitas ini membuat masyarakat lebih memilih merujuk pada bentuk yang lebih sederhana seperti “fobia angka 666”, khususnya dalam pemberitaan atau percakapan informal.
Tantangan tidak berhenti pada struktur kata. Dari sisi fonologi, istilah ini menghadirkan sejumlah bunyi yang asing bagi telinga penutur Indonesia. Pengucapan heksakosioiheksekontaheksafobia tidak hanya sulit, tetapi juga kerap memicu penyederhanaan spontan. Praktik seperti mengurangi kelompok vokal atau mengganti tekanan bunyi menjadi bentuk yang lebih mudah diucapkan menunjukkan bagaimana penutur Indonesia beradaptasi saat berhadapan dengan istilah yang rumit.
Menariknya, muatan makna kata ini di Indonesia tidak lepas dari konteks budaya. Angka 666 sering diasosiasikan dengan hal mistis atau pertanda buruk. Dalam sejumlah pemberitaan, angka ini bahkan dianggap membawa kesialan atau energi negatif. Asosiasi semacam ini memperkaya tafsir semantik terhadap istilah heksakosioiheksekontaheksafobia di tengah masyarakat. Artinya, pemaknaannya tidak hanya berdiri di wilayah psikologi, tetapi juga bersinggungan dengan kepercayaan dan interpretasi sosial masyarakat.
Meskipun rumit, istilah ini tetap mengikuti kaidah sintaksis bahasa Indonesia saat muncul dalam berita atau artikel ilmiah. Ia dapat berfungsi sebagai subjek atau objek tanpa mengalami perubahan bentuk. Namun efisiensi bahasa tetap menjadi pertimbangan, sehingga media lebih sering menggunakannya sebagai istilah pendamping sementara “fobia angka 666” dijadikan istilah utama agar mudah dipahami pembaca.
Di balik panjangnya istilah heksakosioiheksekontaheksafobia, terdapat gambaran tentang bagaimana bahasa Indonesia bekerja: menyerap kata asing, menyesuaikan pengucapan, mengelola makna menurut konteks budaya, lalu menempatkannya dalam struktur kalimat yang familiar bagi pembacanya. Fenomena ini menunjukkan fleksibilitas bahasa Indonesia dalam menghadapi perkembangan terminologi global.
Dalam dunia jurnalistik, istilah seperti ini tidak hanya menambah kekayaan kosakata, tetapi juga membuka ruang pembahasan yang lebih luas tentang hubungan antara bahasa, budaya, dan persepsi publik. Dan pada akhirnya, heksakosioiheksekontaheksafobia menjadi contoh menarik bagaimana sebuah istilah ilmiah yang panjang dan rumit dapat menciptakan dinamika baru dalam bahasa Indonesia.
Tim Redaksi
