Beranda Pendidikan Stop Bullying di Sekolah: Saat Candaan Menjadi Luka yang Tak Terlihat

Stop Bullying di Sekolah: Saat Candaan Menjadi Luka yang Tak Terlihat

Ilustrasi - foto istimewa BimaKini.com

DI BANYAK sekolah, candaan sering dianggap hal biasa. Tapi siapa sangka, di balik tawa itu ada yang menahan air mata. Perundungan—atau bullying—bukan sekadar ejekan ringan antar teman. Ia adalah luka yang bisa tumbuh diam-diam dan menghancurkan kepercayaan diri seseorang.

Sekolah seharusnya menjadi tempat aman bagi setiap anak untuk belajar dan berkembang. Namun realitas di lapangan sering kali berbeda. Ada siswa yang datang ke sekolah dengan rasa cemas, takut bertemu teman sekelas, atau bahkan berpura-pura sakit hanya agar bisa tinggal di rumah. Bentuk perundungan pun kini tak hanya terjadi di lingkungan sekolah, tapi juga di dunia maya. Ejekan, meme, atau komentar kejam di media sosial menjadi senjata baru yang bisa melukai tanpa sentuhan.

Masalah ini tidak bisa dibiarkan. Mencegah perundungan butuh kesadaran kolektif dari guru, siswa, hingga orang tua. Guru perlu memastikan setiap anak merasa aman di sekolah. Sementara orang tua perlu peka terhadap tanda-tanda perubahan perilaku anak—menjadi pendiam, enggan makan, atau kehilangan semangat bisa jadi pertanda bahwa ia sedang mengalami tekanan sosial.

Di sisi lain, pendidikan empati harus dimulai sejak dini. Anak-anak perlu belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk menertawakan, melainkan sesuatu yang harus dihargai. Kegiatan sederhana seperti bermain bersama, berdiskusi, atau proyek kelompok dapat menumbuhkan rasa saling menghormati di antara siswa.

Yang paling penting, keberanian teman sebaya untuk bersuara bisa mengubah segalanya. Saat satu siswa berani berkata, “Sudah, itu keterlaluan,” maka rantai perundungan bisa berhenti di sana. Karena perubahan besar sering dimulai dari keberanian kecil.

Sekolah yang bebas perundungan bukan sekadar cita-cita. Ia bisa diwujudkan jika seluruh pihak berkomitmen menjaga. Sebab pendidikan sejati bukan hanya tentang mengajar matematika dan bahasa, tapi juga tentang mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang menghargai manusia lain.

Baca Juga :  Jambore Sanisek SMP Dinilai Bisa Bentuk Karakter Anak Hidup Bersih dan Sehat

Tim Redaksi