KAB. TANGERANG – Warga Desa Tegalsari, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, menolak rencana pembangunan pemakaman komersial di wilayah mereka. Penolakan tersebut muncul karena lokasi proyek berada di tengah kawasan permukiman warga.
Meski warga telah menyampaikan protes dan melakukan aksi penolakan, keluhan mereka tidak kunjung mendapat respons. Bahkan, di tengah protes, pihak pengembang mulai menggarap lokasi proyek tersebut. Kondisi ini membuat warga kecewa dan merasa aspirasinya diabaikan.
“Jangan ada proyek pemakaman komersial di kampung kami, apalagi di tengah kampung seperti ini,” keluh perwakilan warga, Santi, kepada Bantennews.co.id, Jumat (10/10/2025).
Pembangunan di lahan yang berlokasi di Kampung Guradog sudah mulai berjalan. Terlihat dua alat berat beroperasi di lokasi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, total luas lahan yang akan dijadikan area pemakaman komersial mencapai sekitar 30 hektare. Proyek tersebut diketahui dikelola oleh PT Insira Kiat Mulia selaku pihak pengembang.
Santi menilai rencana proyek tersebut terkesan ditutupi sejak awal. Sosialisasi yang dilakukan pihak desa juga terkesan diskriminatif karena hanya melibatkan orang tertentu. Kegiatan sosialisasi pun dilakukan di luar wilayah desa. Di acara tersebut, warga hanya mendengar penjelasan dari pihak desa dan pengembang, sementara mereka tidak diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat terkait rencana proyek tersebut.
Bahkan, Santi juga menyebutkan bahwa daftar hadir yang diisi perwakilan warga diduga dijadikan sebagai dasar persetujuan atas rencana pendirian makam komersial tersebut.
“Ternyata daftar hadir itu dipakai untuk izin (pendirian) persetujuan pemakaman,” ujarnya.
Warga juga menilai bahwa proyek ini terlalu dipaksakan. Sebagian besar masyarakat dan RT setempat belum menandatangani persetujuan, namun alat berat sudah diturunkan ke lokasi. Spanduk penolakan pun dipasang di pintu areal proyek.
Santi menyatakan, ia bersama puluhan warga sudah dua kali melakukan aksi demo di kantor desa untuk menyampaikan protes dan mempertanyakan perizinan yang sudah ditempuh oleh pihak pengembang. Namun, di tengah aksi protes tersebut, ia justru heran karena pihak pengembang malah menurunkan alat berat.
“Kok tau-tau turun beko?” imbuhnya.
Untuk itu, mereka berharap rencana pembangunan tersebut dibatalkan dan diganti dengan proyek yang dapat memberi manfaat ekonomi bagi warga, seperti pembangunan pergudangan yang bisa menyerap tenaga kerja.
“Kalau pergudangan itu kan bisa membuka lahan pekerjaan untuk warga sekitar. Anak-anak sini pengen pada kerja, banyak yang nganggur,” tandasnya.
Merespons keluhan warga, Sekretaris Desa Tegalsari Atmaja enggan berkomentar terkait keluhan tersebut. Pihaknya akan melakukan konfirmasi terlebih dahulu dengan kepala desa dan pihak pengembang.
“Nanti saya konfirmasi dulu ke Bu Kades dan pihak perusahaan,” singkat Atmaja saat ditemui di kantornya.
Sementara itu, pengawas lapangan PT Insira Kiat Mulia, Hamid, menyatakan bahwa pengerjaan proyek akan tetap berjalan meskipun mendapat protes keras dari warga sekitar.
“Selama lahan milik PT, bisa dilanjutkan. (Perizinannya) sudah,” tandasnya.
Penulis: Saepulloh
Editor: Usman Temposo
