Beranda Kesehatan 879 Balita di Tangsel Masih Terdampak Stunting

879 Balita di Tangsel Masih Terdampak Stunting

Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan

TANGSEL — Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) masih menghadapi persoalan stunting meski prevalensinya turun menjadi 0,75 persen pada Agustus 2026. Data pengukuran mencatat 879 balita mengalami stunting.

Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan mengatakan, angka tersebut berasal dari hasil pengukuran balita pada Agustus 2026. Data itu sudah disampaikan kepada pemerintah kecamatan untuk ditindaklanjuti.

“Per Agustus ini jumlahnya segitu. Jadi, datanya akurat itu kita sampaikan kepada kecamatan,” kata Pilar, Rabu (16/9/2026).

Kecamatan Setu mencatat prevalensi stunting tertinggi di Tangsel, yakni 1,57 persen dengan 119 balita. Pemerintah kota masih menelusuri faktor yang memicu tingginya kasus di wilayah tersebut.

“Paling banyak di Kecamatan Setu. Prevalensinya 1,57 persen, angkanya 100 lebih,” ujarnya.

Pilar meminta pemerintah kecamatan tidak sekadar menerima data. Mereka harus mendatangi keluarga dan mengidentifikasi persoalan setiap balita yang masuk dalam daftar stunting.

“Makanya kita sampaikan kepada kecamatan untuk melakukan identifikasi permasalahan satu per satu,” katanya.

Identifikasi tersebut mencakup kondisi lingkungan tempat tinggal, asupan gizi, serta kemampuan ekonomi keluarga. Pemerintah juga perlu memastikan faktor yang memengaruhi pertumbuhan anak melalui pemeriksaan langsung.

“Misalkan di situ dicek, ternyata masih ada lingkungan yang tidak sehat. Stunting itu karena lingkungannya misalkan tidak sehat,” ujar Pilar.

Ia mencontohkan, petugas harus mendatangi rumah balita berdasarkan alamat lengkap untuk mengetahui penyebab dan kebutuhan penanganannya.

“Misalkan namanya si A di kelurahan ini, alamat jalan ini, RW sekian, RT sekian. Itu didatangin. Lalu dilihat masalahnya apa, diidentifikasi,” katanya.

Pilar menyebut prevalensi stunting Tangsel turun dari sekitar 0,79 persen pada tahun sebelumnya menjadi 0,75 persen pada Agustus 2026. Namun, pemerintah masih harus menekan jumlah balita yang mengalami stunting.

Baca Juga :  Pemkot Tangsel Galau Usai Proyek PSEL Dibatalkan Presiden

“Tangsel itu termasuk yang terendah, ya, di Indonesia, di Banten, tapi PR kita lah. Kita kerja keras bersama-sama buat terus mengurangi,” tutupnya.

Diketahui, stunting merupakan gangguan pertumbuhan anak yang membuat tinggi badan lebih rendah daripada standar usianya. Kondisi ini berkaitan dengan kekurangan gizi dalam jangka panjang, termasuk asupan gizi ibu selama kehamilan dan pemenuhan nutrisi anak.

Penulis : Ahmad Rizki
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd