Beranda Kesehatan 804 Kasus HIV/AIDS di Cilegon, Didominasi LGBT

804 Kasus HIV/AIDS di Cilegon, Didominasi LGBT

892
0
Rakor Penanggulangan HIV/AIDS di Kota Cilegon. (Usman/bantennews)

CILEGON – Kasus Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Kota Cilegon cukup mengkhawatirkan.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon, hingga saat ini kasus penyakit mematikan itu ada sebanyak 804 penderita dengan peningkatan sekitar 70-80 kasus baru setiap tahunnya.

Demikian terungkap saat Rapat Koordinasi Penanggulangan HIV/AIDS Kota Cilegon dengan tema “Membentengi generasi penerus bangsa dari bahaya HIV/AIDS”. Acara yang dilaksanakan di Aula Kantor Dinkes Kota Cilegon, Kamis (15/8/2019) itu dihadiri Walikota Cilegon, Edi Ariadi.

Kepala Dinkes Kota Cilegon, Arriadna mengatakan bahwa kasus HIV di Cilegon banyak diderita berbagai kalangan masyarakat. Bahkan seperti ibu rumah tangga hingga pelajar sudah ada yang terjangkit penyakit yang belum ada obatnya tersebut.

“Penderita HIV/AIDS ini rata-rata usia produktif. Namun yang mendominasi adalah LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender). Untuk LGBT ini kita sulit untuk mengendalikan,” ujar Kadinkes.

Sebab itu, kata dia, diperlukannya edukasi kepada semua kalangan masyarakat dan para tenaga pengajar. Sebab, penularan HIV/AIDS di era modern ini cukup agresif dengan gaya hidup yang begitu bebas.

“Kami berharap kepada para tenaga pengajar bisa memberikan edukasi kepada muridnya agar tidak melakukan tindakan yang berisiko tertular HIV/AIDS. Soalnya kasus pelajar yang terjangkit HIV/AIDS di Cilegon juga cukup banyak,” terangnya.

Dia menjelaskan bahwa penularan HIV/AIDS ditularkan melalui berbagai cara di antara hubungan seksual dan narkoba.

“HIV/AIDS ini menular melalui cairan sperma, cairan vagina, jarum suntik narkoba,” jelasnya.

Sementara itu, Walikota Cilegon, Edi Ariadi mengapresiasi kegiatan Rapat Koordinasi Penanggulangan AIDS Kota Cilegon. Sebab memang kasus HIV/AIDS di Cilegon begitu mengkhawatirkan.

“Sasaran kita remaja, makanya kita mengundang dari tenaga pendidikan dan yayasan pendidikan, kenapa remaja?, karena yang rentan itu memang remaja, karena mudah terpengaruh, dan terbawa arus. Tenaga pendidikan yang kita undang ini mereka nanti jadi corong untuk mensosialisasikan kepada para pelajar,” terangnya. (Man/Red)