Beranda Advertorial 7 Tahun Cuci Darah, Rohis Bertahan karena JKN BPJS Kesehatan

7 Tahun Cuci Darah, Rohis Bertahan karena JKN BPJS Kesehatan

Rohis (23) tahun, warga Kabupaten Lebak, pasien PBI PBJS Kesehatan yang cuci darah di RS Kartini Kabupaten Lebak. (Istimewa)

LEBAK — Setiap Senin dan Kamis, Rohis (23), warga Kabupaten Lebak, Banten, harus menghadapi rutinitas yang tak mudah. Sejak berusia 17 tahun, ia menjalani cuci darah dua kali dalam sepekan akibat gagal ginjal.

Hampir tujuh tahun sudah Rohis menjalani hemodialisis. Ia mendatangi RS Kartini Lebak untuk mempertahankan kondisi tubuhnya sekaligus melanjutkan hidup di tengah keterbatasan ekonomi.

Perjuangan itu bermula sejak Rohis masih kecil. Ia mengaku dokter mendiagnosis dirinya mengalami gangguan ginjal.

Saat duduk di kelas 3 SMP, kondisinya memburuk hingga dokter menyatakan ia mengalami gagal ginjal.

“Dari kecil saya divonis ginjal bocor. Terus berobat jalan ke faskes. Ketika mau masuk SMP kelas 3, saya divonis gagal ginjal. Baru dari situ mulai cuci darah,” ujar Rohis, Selasa (15/9/2026).

Sebelum rutin menjalani cuci darah, kondisi Rohis sempat memburuk. Tubuhnya mengalami pembengkakan hingga ia kesulitan berjalan.

Setelah menjalani pengobatan di sejumlah fasilitas kesehatan, Rohis akhirnya mendapat perawatan di RS Kartini.

Ia mengaku, pelayanan di rumah sakit tersebut membantunya menjalani pengobatan secara rutin.

“Alhamdulillah di sini prosesnya cepat. Dapat pelayanan, dapat ruangan, langsung dapat jadwal. Lama-kelamaan sudah mulai baik dan bisa jalan,” katanya.

Kini Rohis sudah terbiasa dengan jadwal cuci darah. Namun, persoalan biaya tetap menjadi ancaman besar jika ia harus menanggung pengobatan sendiri.

Rohis bekerja sebagai buruh harian lepas. Ia juga menjual sayuran hasil kebun dan ayam peliharaan di rumah.

Penghasilannya tidak tetap dan terkadang hanya sekitar Rp1,5 juta per bulan.

Di tengah kondisi itu, kepesertaan sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan membuat Rohis bisa terus menjalani pengobatan.

Baca Juga :  Pemkab Serang Siapkan Perbup untuk Tingkatkan Produktivitas P3A

“Kalau tidak ter-cover BPJS Kesehatan, saya tidak tahu bisa berobat atau enggak. Soalnya mungkin sudah habis ratusan juta cuma untuk berobat sampai sekarang,” ucapnya.

Rohis memperkirakan sekali cuci darah membutuhkan biaya hampir Rp2 juta. Dengan jadwal dua kali seminggu, ia harus menjalani sekitar delapan kali tindakan dalam sebulan.

Jika seluruh biaya itu harus ia tanggung sendiri, penghasilannya jelas tidak akan mampu menutup kebutuhan pengobatan.

“Sekali cuci darah saja kisaran hampir Rp2 juta. Untuk kerjaan buruh harian lepas seperti saya, tidak mungkin bisa bayar rutin begitu karena sangat mahal. Mungkin saya jual tanah atau apa saja untuk sekali berobat, beda jauh dengan penghasilan saya dari jual sayuran,” katanya.

Selain membantu biaya pengobatan, Rohis juga mengaku puas dengan pelayanan yang ia terima sebagai peserta PBI. Ia tidak merasakan perbedaan perlakuan antara peserta BPJS Kesehatan.

“Pelayanannya tidak ada perbedaan, semua sama saja, rata dan serba lengkap. Sekarang juga makin meningkat, sudah nyaman tempatnya, perawatannya juga lumayan lengkap,” ujarnya.

Bagi Rohis, JKN bukan sekadar kartu kepesertaan. Program tersebut menjadi penopang agar ia tetap menjalani cuci darah tanpa harus mengorbankan kebutuhan hidup keluarganya.

“Untuk orang-orang tidak mampu seperti saya, program BPJS Kesehatan ini sangat membantu banget. Harapannya mudah-mudahan program BPJS Kesehatan ini terus ada. Dampaknya terasa banget bagi warga yang penghasilannya tidak menentu seperti saya,” ucap Rohis.

Selama hampir tujuh tahun, Rohis terus menjalani cuci darah sembari bekerja sesuai kemampuannya. Di tengah penyakit yang memaksanya bergantung pada perawatan rutin, jaminan kesehatan membuatnya tetap memiliki kesempatan untuk bertahan dan menatap hari esok.

Advertorial