BANTEN – Upaya pencarian terhadap lima jurnalis yang hilang kontak saat melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda terus dilakukan. Hingga Kamis, 10 September 2026, keberadaan kelima jurnalis bersama tiga kru kapal yang mereka tumpangi masih belum diketahui.
Kelima jurnalis tersebut diketahui berada di atas speedboat Arupadhatu 1 bersama tiga kru ketika berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin, 7 September 2026.
Mereka melakukan perjalanan untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Namun, komunikasi dengan rombongan kemudian terputus.
Berikut tujuh fakta menarik dalam proses pencarian delapan orang yang hilang kontak di perairan Selat Sunda tersebut.
1. Titik terakhir diketahui sekitar pukul 14.42 WIB
Rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan sekitar pukul 14.00 WIB. Salah satu petunjuk penting yang dimiliki tim pencarian adalah lokasi yang sempat dibagikan oleh anggota rombongan sekitar pukul 14.42 WIB.
Sekitar 22 menit kemudian, komunikasi dengan rombongan terputus.
Titik terakhir tersebut menjadi salah satu dasar bagi tim SAR dalam menentukan sektor awal pencarian.
2. Tim SAR mencari delapan orang
Meski informasi yang berkembang banyak menyebut lima jurnalis, operasi pencarian sebenarnya ditujukan kepada delapan orang.
Selain lima jurnalis, terdapat tiga kru kapal, yakni Warta selaku kapten, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto yang berperan sebagai pemandu.
Kelima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudhis, Daus dan Donal.
3. Wilayah pencarian terus diperluas
Pencarian tidak berhenti di sekitar titik terakhir keberadaan rombongan.
Tim SAR menyisir sejumlah wilayah perairan di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau, termasuk Rakata, Krakatau dan Pulau Panjang.
Dari sisi Lampung, pencarian juga dilakukan dari kawasan Pulau Sebesi menuju perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.
Perluasan sektor dilakukan karena posisi kapal dapat berubah akibat pengaruh arus dan angin laut.
4. Helikopter ikut dikerahkan
Pencarian dilakukan melalui jalur laut dan udara. Pada Kamis, 10 September 2026, helikopter Dauphin AS365 N3+ HR-3604 dikerahkan untuk membantu pencarian dari udara.
Penggunaan pesawat atau helikopter memungkinkan tim melihat wilayah pencarian yang lebih luas sekaligus membantu mengidentifikasi kemungkinan keberadaan kapal atau benda yang berkaitan dengan rombongan.
5. Kondisi laut menjadi tantangan
Proses pencarian berlangsung dalam kondisi laut yang tidak sepenuhnya bersahabat. Angin cukup kencang dan gelombang dilaporkan mencapai sekitar 1–2 meter.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi tim SAR yang harus melakukan penyisiran di wilayah perairan terbuka.
Selain menyulitkan pencarian objek berukuran kecil seperti speedboat, kondisi gelombang juga harus diperhitungkan demi keselamatan personel yang terlibat dalam operasi.
6. Pencarian berlangsung di sekitar gunung api aktif
Faktor lain yang membuat operasi menjadi kompleks adalah lokasi hilangnya rombongan berada di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Rombongan sebelumnya memang berada di kawasan tersebut untuk melakukan peliputan aktivitas vulkanik.
Tim SAR harus memperhitungkan kondisi aktivitas gunung api dan faktor keselamatan ketika menentukan sektor pencarian.
Dengan demikian, operasi pencarian menghadapi kombinasi medan laut terbuka, perubahan cuaca serta lingkungan vulkanik yang dinamis.
7. Pencarian diarahkan ke utara
Perkembangan penting terjadi pada hari ketiga pencarian.
Tim SAR menyisir wilayah sisi selatan Gunung Anak Krakatau hingga sekitar 20 nautical mile (NM) dari titik tengah gunung.
Namun, belum ditemukan keberadaan rombongan.
Pada Jumat, 11 September 2026, pencarian kemudian diarahkan ke sisi utara Gunung Anak Krakatau.
Perubahan sektor ini menunjukkan bahwa operasi SAR terus menyesuaikan strategi berdasarkan hasil penyisiran sebelumnya dan kemungkinan pergeseran posisi kapal akibat kondisi laut.
Hilangnya kontak dengan lima jurnalis dan tiga kru kapal tersebut menyisakan teka-teki di tengah operasi pencarian yang semakin luas.
Tim SAR masih berupaya menemukan keberadaan seluruh anggota rombongan dengan mengerahkan unsur laut dan udara.
Hingga perkembangan terakhir pada 10 September 2026, kedelapan orang tersebut belum ditemukan.
Pencarian dijadwalkan berlanjut pada Jumat, 11 September, dengan sektor yang diperluas ke bagian utara Gunung Anak Krakatau.
Tim Redaksi
