KAB. SERANG — Keluarga Mahasiswa Serang Barat (Kumaseba) membawa sejumlah persoalan daerah dalam aksi di Kabupaten Serang. Mereka menyoroti aktivitas tambang di Bojonegara dan Pulo Ampel, truk kelebihan muatan atau over dimension over loading (ODOL), minimnya penerangan jalan umum (PJU), pendidikan, pengangguran hingga kemiskinan.
Hal itu terungkap dalam aksi refleksi Hari Ulang Tahun (HUT) ke-500 Kabupaten Serang di depan Gedung DPRD Kabupaten Serang, Kamis (8/10/2026).
Koordinator Lapangan aksi, Mahyadi mengatakan, mahasiswa Serang Barat sengaja mengangkat persoalan di sejumlah kecamatan karena mereka melihat masalah tersebut masih belum mendapat penanganan serius pemerintah daerah.
“Ini tuntutan kita banyak, meliputi beberapa kecamatan, khususnya di Kabupaten Serang bagian barat karena kita bersama-sama bergerak atas dasar Keluarga Mahasiswa Serang Barat,” kata Mahyadi.
Mahyadi menyoroti aktivitas tambang di wilayah Bojonegara dan Pulo Ampel. Ia mempertanyakan status serta perizinan sejumlah aktivitas tambang yang menurutnya belum jelas.
“Di Bojonegara, Pulo Ampel, terkait status dan perizinan tambang yang masih banyak tidak diketahui oleh kabupaten kita. Khususnya ibu kita tidak mengetahui hal itu,” ujarnya.
Selain tambang, mahasiswa mendesak pemerintah kembali memperketat pengawasan terhadap truk ODOL. Mahyadi meminta Pemkab Serang mengeluarkan regulasi khusus untuk menindak kendaraan yang melanggar ketentuan dimensi dan muatan.
“Perihal perizinan ODOL. Kami sebagai mahasiswa Serang Barat mengajukan keinginan untuk mengeluarkan kembali regulasi, khususnya dari wilayah ataupun keputusan Bupati Serang, untuk menindaklanjutinya terkait truk ODOL,” katanya.
Persoalan penerangan juga masuk dalam sorotan mahasiswa. Mereka menilai sejumlah wilayah seperti Gunungsari, Mancak, Anyer, dan Cinangka masih menghadapi minim penerangan jalan.
Mahyadi kemudian mengaitkan persoalan pendidikan dengan tingginya angka pengangguran di Kabupaten Serang. Ia menilai pemerintah perlu memperkuat pengawasan dan pembenahan sektor pendidikan karena minat masyarakat melanjutkan pendidikan dinilai menurun.
“Kalau dari sisi pendidikan di usia lima abad ini Kabupaten Serang, dengan melihat keadaan pengangguran, kita bisa melihat status pendidikan Kabupaten Serang ini minim,” ujarnya.
Mahyadi mengklaim mahasiswa menemukan penurunan jumlah pendaftar siswa pada tahun sebelumnya. Menurutnya, kondisi itu menunjukkan persoalan akses dan minat pendidikan yang perlu pemerintah perhatikan.
“Kami banyak mendata bahwasanya jumlah siswa untuk pendaftaran tahun kemarin itu menurun. Di situlah kita bisa melihat rendahnya ataupun minimnya minat terhadap belajar karena tidak ada controlling dari bupati kita perihal pendidikan tersebut,” katanya.
Mahyadi menilai lemahnya perhatian terhadap pendidikan ikut memperbesar persoalan pengangguran. Ia bahkan menyebut Kabupaten Serang memiliki angka pengangguran terbesar di Provinsi Banten.
“Di situlah lahir pengangguran yang semakin melonjak. Kita pastikan saat ini Kabupaten Serang ini terbesar di Provinsi Banten, pengangguran status penganggurannya,” ujarnya.
Dari sisi kesejahteraan, mahasiswa juga menyoroti masih banyak warga yang membutuhkan bantuan pangan. Mahyadi menjadikan data penerima bantuan sebagai salah satu indikator yang menurutnya menunjukkan persoalan kemiskinan di Kabupaten Serang.
“Dengan adanya bantuan pangan, itu bisa melihat bahwasanya Kabupaten Serang ini besar dari status kemiskinan. Dari desil ataupun dari PBP bisa melihat banyak masyarakat yang tidak mampu,” katanya.
Mahasiswa meminta pemerintah daerah tidak hanya merayakan usia 500 tahun Kabupaten Serang dengan seremoni. Mereka mendorong pemerintah membuktikan capaian pembangunan melalui penyelesaian persoalan tambang, ODOL, penerangan, pendidikan, pengangguran, dan kesejahteraan masyarakat.
Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah
