Beranda Berita 4 Cara Yang Bisa Dilakukan Orangtua Untuk Mendampingi Anak Saat Masa Pubertas

4 Cara Yang Bisa Dilakukan Orangtua Untuk Mendampingi Anak Saat Masa Pubertas

Ilustrasi - foto istimewa IDN Times

Saat anak mulai memasuki masa pubertas, mereka akan mengalami banyak perubahan pada tubuh maupun mentalnya. Masa pubertas biasanya dimulai sekitar usia 7-13 tahun pada anak perempuan, dan sekitar usia 9-15 tahun pada anak laki-laki. Namun hal itu dapat berbeda pada tiap anak.

Tak semua anak bisa melewati masa pubertas dengan baik. Peran orangtua dan dukungan dari keluarga sangat penting untuk anak bisa melewati masa tersebut dengan baik.

Masa pubertas biasanya ditandai dengan sejumlah perubahan pada fisik anak remaja. Misalnya pada anak perempuan, mereka akan mengalami menstruasi, perkembangan payudara, dan rambut dalam beberapa bagian tubuhnya. Sedangkan Pada anak laki-laki, tubuh mereka akan bertambah tinggi, mereka juga akan memiliki jakun, jerawat dan lain-lain.

Mereka mungkin khawatir atau malu tentang perubahan pada tubuh mereka hingga perasaan seksual atau ada ketertarikan romantis dan lain sebagainya. Perubahan hormon gang cukup besar juga bisa membuat mereka lebih sensitif dan terkadang menjadi sulit didekati.

Tidak sedikit orangtua yang mungkin bingung untuk mencari cara bagaimana mendampingi anak remaja melalui perubahan fisik, psikologis, dan emosional yang dialaminya.

Salah satu cara yang bisa dilakukan orangtua yakni menyakinkan anak bahwa orangtuanya dapat diajak bicara jika mereka memerlukan teman bicara.

Dikutip dari berbagai sumber, berikut cara-cara yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk mendampingi anak melalui masa pubertas:

1. Membantu Anak Untuk Memahami Perubahan yang terjadi

Perubahan fisik yang terjadi pada tubuh anak remaja seperti jerawat, bau tubuh, perkembangan organ seksual dapat membuat anak merasa sulit memahami dan malu. Oleh karenanya, peran orangtua sangat dibutuhkan untuk memberitahu informasi terkait apa yang terjadi dan bagaimana merawat perubahan tubuh pubernya.

Menyakinkan anak jika perubahan-perubahan tersebut adalah hal yang normal dan akan dialami oleh setiap anak sehingga tidak perlu malu. Berikan bantuan kepada mereka untuk memiliki rutinitas harian baru di rumah dan solusi profesional yang masuk akal untuk masalah yang sangat merepotkan.

2. Menjadi Teman Bicara

Di masa pubertas, tidak hanya perubahan bentuk tubuh namun perubahan hormon selama masa pubertas bisa memengaruhi tubuh dan pikiran anak.

Perubahan itu memicu rasa terlalu sensitif, mudah marah, dan merasa cemas dengan penampilan mereka. Biasanya, anggota keluarga adalah orang pertama yang akan terkena dampak dari perubahan suasana hati remaja.

Jadi, cobalah untuk bersabar dan tetap tenang saat menghadapi ledakan amarahnya. Tunggulah sampai si anak tenang sebelum mengajaknya berbicara.

Jika sudah bisa berbicara dengan anak, beritahu anak bahwa orangtua akan mendukung dan memahami dalam membantu mereka belajar bagaimana mengatur emosi. Yang terpenting, pastikan anak tahu jika mereka bisa berbicara dengan orangtuanya tentang apapun.

3. Beri Edukasi Seks

Pemberian edukasi seks untuk remaja mungkin masih menjadi suatu hal yang tabu bagi masyarakat Indonesia. Namun, hal ini dibutuhkan untuk remaja perempuan dan laki-laki yang memasuki masa pubertas sebab pubertas adalah proses di mana anak laki-laki dan perempuan menjadi dewasa secara seksual.

Anak perlu memiliki pemahaman yang baik tentang sistem reproduksi, bukan hanya alasan di balik perubahan fisik yang mereka alami tetapi juga konsekuensi dari melakukan hubungan seks tanpa kondom. Sedangkan untuk anak perempuan perlu tahu bahwa mereka bisa hamil dan anak laki-laki perlu tahu bahwa mereka bisa menjadi ayah dari seorang anak. 

4. Membantu Membangun Citra Diri ke Arah Positif

Di era digital, hampir seluruh remaja memiliki media sosial untuk wadah mengenal satu sama lain dan mencari teman. Namun penggunaan media sosial bisa membawa pengaruh buruk jika tidak digunakan bijak.

Media sosial juga memberi banyak pengaruh pada kehidupan anak remaja yang bisa membuat mereka membandingkan diri dengan teman-teman mereka atau influencer selebritas, sehingga rasa tidak percaya diri bisa muncul.

Peran orangtua dalam hal ini yakni memberikan pemahaman kepada anak terkait penggunaan media sosial serta menyakinkan anak jika dirinya berharga dan kecantikan tak hanya sebatas soal fisik. (Red)