SERANG — Di bawah terik jalanan Kota Serang, suara gitar dan lagu-lagu jalanan pernah menjadi bagian dari hidup Aliyudin. Bertahun-tahun ia menjalani hidup sebagai pengamen, berpindah dari satu lampu merah ke tempat lain demi mendapatkan uang untuk bertahan hidup.
Tak banyak yang tahu, kebiasaan itu dimulai sejak ia masih duduk di bangku SMP. Diam-diam, Aliyudin mengikuti teman-temannya turun ke jalan. Ia pergi tanpa sepengetahuan orang tua karena takut dimarahi.
“Awalnya ikut-ikut teman ngamen. Lama-lama jadi pengamen beneran,” kenang Aliyudin, Kamis (21/5/2026).
Jalanan menjadi sekolah kehidupan baginya. Dari wilayah Cikande, Tangerang hingga Balaraja, ia mencari nafkah dengan bermodalkan gitar dan suara. Penghasilan yang didapat tak pernah pasti. Kadang cukup untuk makan sehari, kadang tidak membawa uang sama sekali.
Kehidupan keras jalanan perlahan membentuk penampilannya. Ia mulai memakai anting dan lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah. Orang tuanya akhirnya menyadari bahwa anak mereka telah hidup di jalanan.
Namun hidup Aliyudin berubah ketika bertemu petugas Dinas Sosial (Dinsos) Kota Serang sekitar tahun 2018 hingga masa pandemi Covid-19. Saat itu, ia diajak berbincang dan ditawari mengikuti pembinaan keterampilan.
“Awalnya diajak sharing sama orang Dinsos. Terus saya ikut pelatihan perbengkelan di Rangkas selama tiga bulan,” ujarnya.
Tiga bulan pelatihan itu menjadi titik balik hidupnya. Di tempat pelatihan, Aliyudin belajar dasar-dasar perbengkelan dan tambal ban. Bukan hanya keterampilan yang ia bawa pulang, tetapi juga harapan baru.
Setelah pelatihan selesai, ia mendapat bantuan seperangkat alat usaha seperti kompresor, alat bakar hingga berbagai peralatan bengkel sebagai modal awal membuka usaha sendiri.
Dengan peralatan sederhana tersebut, Aliyudin mulai merintis usaha tambal ban kecil-kecilan. Ia belum memiliki kios permanen. Bengkel itu dijalankannya menggunakan gerobak yang didorong berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.
“Bengkel saya pakai gerobak keliling. Pulang pergi bawa gerobak,” katanya.
Kini, gerobak sederhana itu menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya. Dari usaha tambal ban keliling, Aliyudin berusaha memenuhi kebutuhan istri dan anaknya.
Meski penghasilannya belum besar, ia tetap bersyukur. Dalam sehari, pendapatannya tak menentu.
“Kadang sehari dapat Rp50 ribu sampai Rp60 ribu. Kadang juga cuma Rp5 ribu atau Rp2 ribu, bahkan pernah nggak dapat sama sekali,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan itu, Aliyudin memilih bertahan. Baginya, keluarga menjadi alasan terbesar untuk terus bekerja dan memperjuangkan hidup yang lebih baik.
“Masih semangat, karena ada anak dan istri,” katanya singkat.
Selain menerima tambal ban, Aliyudin kini juga kerap membantu servis ringan kendaraan milik warga atau teman-temannya. Ia terus belajar memperdalam ilmu perbengkelan agar bisa lebih banyak membantu orang lain.
“Belajar terus biar nambah ilmu, biar bisa bantu orang,” ujarnya.
Bagi Aliyudin, hidupnya sekarang jauh berbeda dibanding masa lalu ketika mengamen di jalanan. Meski belum sepenuhnya mapan, ia merasa lebih tenang karena memiliki pekerjaan yang jelas dan hidup lebih mandiri.
“Sekarang banyak perubahan. Udah beda kayak dulu,” katanya.
Di balik gerobak tambal ban yang ia dorong setiap hari, tersimpan harapan sederhana. Aliyudin ingin teman-temannya yang masih hidup di jalanan berani mengambil kesempatan untuk berubah.
“Semoga teman-teman pengamen bisa berubah kayak saya, hidup mandiri. Di jalanan itu pahit manisnya ada,” tuturnya.
Penulis: Ade Faturohman
Editor: Usman Temposo
