SERANG— Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) 2026 tidak hanya menjadi ajang pengenalan kehidupan akademik. Tahun ini, mahasiswa baru bersama mahasiswa lanjut semester turut menggelorakan gerakan literasi melalui donasi buku.
Presiden Mahasiswa Untirta 2026, Muhammad Ridam mengatakan, hingga Selasa (11/8/2026), 3.000 buku telah terkumpul melalui gerakan tersebut. “Setiap mahasiswa baru dan mahasiswa lama mendistribusikan dan mendonasikan buku. Total hari ini sudah terkumpul sekitar 3.000 buku,” ujar Ridam.
Buku-buku tersebut selanjutnya akan didistribusikan kepada sejumlah Taman Bacaan Masyarakat (TBM), komunitas literasi, serta masyarakat di sekitar Kampus Untirta Sindangsari.
Menurut Ridam, gerakan tersebut merupakan bagian dari upaya mahasiswa untuk ikut berkontribusi dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Buku yang terkumpul diharapkan tidak hanya menjadi koleksi, tetapi benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkan akses terhadap bahan bacaan.
“Kita akan upayakan buku-buku ini utamanya ntuk meningkatkan minat baca masyarakat sekitar. Budaya baca harus kita gelorakan kepada setiap individu maupun masyarakat agar mereka semakin tercerdaskan,” katanya.
Ridam menilai gerakan tersebut juga menjadi bentuk ideal bahwa kampus tidak hanya memberikan dampak di dalam lingkungan akademik, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat di sekitarnya.
Sejalan dengan Program Pustakawan Masuk Desa
Gerakan donasi buku yang dilakukan BEM Untirta tersebut disambut antusias oleh UPA Perpustakaan Untirta. Menurut Kepala UPA Perpustakaan Untirta, Dr. Firman Hadiansyah, M.Hum., kegiatan tersebut sejalan dengan visi UPA Perpustakaan Untirta yang tengah menggalakkan program Pustakawan Masuk Desa.
Ia menuturkan, donasi buku tersebut mampu membantu memperluas peran perpustakaan dan pustakawan dalam membangun budaya literasi di masyarakat. Termasuk menjadi pionir dalam pengembangan desa binaan di kawasan sekitar Kampus Untirta, Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang.
“Kami kira ini sangat menarik. Ini merupakan hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk menjalankan peran sebagai agen perubahan, yaitu saling bahu-membahu menggalakkan budaya baca,” ujar Firman.
Ia menilai gerakan donasi buku tersebut layak diacungi jempol karena memperlihatkan adanya kolaborasi antara mahasiswa dan perpustakaan dalam membangun ekosistem literasi. Menurut Firman, kegiatan tersebut sekaligus menghadirkan perspektif berbeda dalam pelaksanaan PKKMB bahwa mahasiswa baru juga dapat diperkenalkan sejak awal pada nilai kepedulian sosial dan kontribusi kepada masyarakat.
“Patut diapresiasi apa yang dilakukan oleh teman-teman BEM Untirta. Tentunya ini membawa aura positif dalam konteks PKKMB yang selama ini kita kenal,” katanya.
Dari Kampus untuk Masyarakat
Sebanyak 3.000 buku yang terkumpul menjadi modal awal untuk memperluas akses bacaan masyarakat. Distribusi buku nantinya akan diarahkan kepada TBM, ruang-ruang baca, serta masyarakat yang membutuhkan. Dengan pola tersebut, buku yang dihimpun dari sivitas akademika diharapkan dapat terus bergerak dan memberikan manfaat secara langsung.
Bagi Untirta, menurut Firman, gerakan tersebut sekaligus memperkuat gagasan bahwa kampus merupakan bagian dari masyarakat. Literasi tidak berhenti di ruang kelas atau perpustakaan kampus, tetapi perlu hadir di tengah masyarakat.
Ia menambahkan, kolaborasi antara mahasiswa, BEM Untirta, UPA Perpustakaan, dan masyarakat sekitar diharapkan menjadi langkah awal membangun kawasan literasi di sekitar Kampus Sindangsari.
“Gerakan ini juga memperlihatkan bahwa membangun budaya baca dapat dimulai dari langkah sederhana: membaca, mengumpulkan buku, dan membagikannya kepada mereka yang membutuhkan,” tegas Firman. ***
