Beranda Sosial dan Budaya Ramadan di Negeri Van Oranye

Ramadan di Negeri Van Oranye

73
0

Ramadan di Negeri Van Oranye
Oleh : Destyka Putri

Bagaimana Puasa di Belanda
Dua tahun lalu saya datang ke negeri kincir angin, Belanda, bersama dua anak balita, menyusul suami yang sedang studi di Universitas tertua di Belanda, Universitas Leiden. Tak pernah membayangkan saat baru saja tiba, lima hari kemudian sudah harus berpuasa 19 jam lamanya, di tambah kondisi saya saat itu masih menyusui anak kedua. Tidak ada penolakan atau rasa sungkan apalagi khawatir kelaparan. Saya hanya berusaha menanam do’a semoga Allah menguatkan dan memudahkan begitupun untuk puasa-puasa di tahun-tahun berikutnya.

Ya, aktifitas di bulan ramadhan ini jadi pengalaman tersendiri untuk kami; saya, suami, dan anak-anak. Kami merasa bersyukur bisa mendapatkan kesempatan berpuasa di tempat yang lain, sebuah negara di Eropa. Kami banyak belajar dan mencoba membingkai hikmah dari hari-hari yang kami lalui di sini. Kemudahan dalam menjalankan puasa menjadi karunia tersendiri. Kami menjalankan puasa dengan rasa aman, nyaman, dan tentram. Adapun tantangannnya adalah soal durasi waktu lamanya berpuasa.

Sebenarnya apa yang membuat puasa di Belanda hingga mencapai 19 jam? Jawabannya adalah karena puasa masuk di awal musim panas, dimana siang hari lebih panjang ketimbang malam hari. Puasa dimulai pada pukul 03.15 dini hari dan berakhir jelang pukul 10 malam, langit belum gelap masih terang remang-remang. Perjuangan belum selesai setelah berbuka, masih harus menunggu waktu isya yang jatuh pada pukul 12 malam.
Lagi-lagi perjuangan belum usai kami hanya punya waktu 2-4 jam untuk tidur di sela-sela menunggu isya dan sahur. Kami sudah harus terjaga lagi di jam 2 malam untuk menyiapkan santap sahur. Dari sini bisa terlihat jarak antara solat isya, tarawih, dan sahur berdekatan. Tidak jarang hal ini membuat pola tidur menjadi tidak beraturan dan terkadang cenderung kurang sedangkan esok harinya sudah harus beraktivitas normal.

Tidak ada yang berbeda meski sedang berpuasa. Kami tetap menjalankan aktifitas kami secara normal, suami mengantar anak-anak sekolah, setelahnya ia berangkat ke kantor. Siang hari jam 2.30 saya menjemput anak-anak dan lanjut memasak untuk berbuka puasa. Selain itu sesama warga Indonesia di sini sering mengadakan acara silaturahim untuk buka bersama.

Keluarga Desty di Belanda. (Foto pribadi)

Makanan Halal di Belanda
Berbicara soal puasa tentu tidak lepas dari menu berbuka. Bagaimana menu berbuka di sini, adakah kolak, gorengan, es campur, dan makanan khas berbuka di Indonesia? Jawabnya adalah tidak. Tidak ada penjual kolak, gorengan, atau es campur. Jika kami menginginkan menu tertentu kami harus membuatnya sendiri dengan membeli bahan-bahan di toko Asia, harganya? Jika dibandingkan dengan harga Indonesia, di sini tentu lebih tinggi.

Sebagai contoh satu buah tempe harganya 1,5 Euro setara 21 ribu. Kelapa, nangka, kolangkaling kalengan, isi 300-400 gram 2.5-3.00 euro setara 35-50 ribu. Di Leiden sendiri, kota di mana kami tinggal, setidaknya ada empat toko halal yang menjual produk-produk halal seperti daging sapi, kambing, dan ayam. Selain toko daging halal, Hampir di setiap kota di Belanda pasti terdapat supermarket atau toko Asia yang menjual bahan baku makanan Asia, termasuk Indonesia.

Respon Kawan-kawan Non Muslim di Belanda Soal Puasa
Mejalankan puasa di negara mayoritas non muslim tidaklah begitu sulit, paling tidak begitu yang kami rasakan di Leiden. Kawan-kawan non muslim saya sangat menghargai, sebagai contoh mereka selalu bertanya dulu sebelum menawarkan sesuatu pada saya. Memasuki tahun ketiga tinggal di Leiden, Belanda, selama itu pula saya dan keluarga tidak pernah mengalami diskriminasi atau tindakan kekerasan lainnya yang diakibatkan perbedaan keyakinan. Prinsipnya tidak saling menganggu satu sama lain. Sebaliknya saya merasakan betul banyak kebaikan dari para penduduknya.
Di Leiden sendiri termasuk salah satu kota yang yang menurut saya pribadi tinggi nilai toleransinya ini bisa saja terjadi karena di Leiden sendiri penuh dengan mahasiswa international dari berbagai negara di dunia yang dengan demikian tidak mudah terpancing dengan isyu-isyu yang menyulut perpecahan. Keberagaman itu membuat satu sama lain saling mencoba mengisi dengan sama-sama saling menghargai. Belanda adalah negara multikultur berpaham liberal, di mana warganya bebas melakukan apapun termasuk memeluk agama atau tidak, memilih kepercayaan tertentu atau tidak. Yang perlu dipahami bersama adalah hidup harmoni dengan saling memahami.

Masjid di Leiden, Belanda
Masjid-masjid di Belanda terus bertambah. Beberapa diantaranya merupakan alih fungsi dari bangunan gereja yang mulai ditinggalkan jama’ahnya. Di Leiden sendiri setidaknya ada tiga masjid yang cukup terkenal yaitu, Alhijra Islamic Centrum, Imam Malik Islamic centrum, dan Mimar Sina Moskee Leiden. Masing-masing masjid menyelenggarakan solat tarawih berjamaah, ceramah keagamaan, dan kegiatan pembelajaran lainnya, seperti belajar membaca dan menghafal alquran untuk semua kalangan umur. Khusus bulan puasa masjid-masjid tersebut menyiapkan menu berbuka dan siapa saja boleh datang.

Di tiap masjid di Belanda peran Imam sangatlah penting. Ya tidak sembarang orang bisa menjadi Imam masjid. Imam masjid haruslah orang-orang pilihan dengan pemahaman ilmu agama yang mumpuni. Fungsi imam masjid sendiri bukan hanya mengimami solat namun juga membina para muslim, dan membantu para mualaf yang hendak memeluk dan mempelajari Islam. Selain itu Imam masjid harus bisa berdialog dengan lintas agama.

Ngabuburit
Berjalan-jalan sambil menunggu beduk magrib menjadi hal yang lumrah di Indonesia bahkan mendekati kebiasaan. Di sini tantangan durasi puasa yang lama membuat kami hanya segera ingin pulang ke rumah dan beristirahat. Di Belanda sendiri orang-orangnya jarang menghabiskan untuk hal-hal yang tidak produktif, selepas kerja mereka lebih senang langsung pulang ke rumah. Di Belanda banyak komunitas muslim dari Turki, Maroko, India, Pakistan, Syiria, Lebanon , dan tentu indonesia masing-masing memiliki tradisi masing-masing yang tidak bisa kita buat sama. Terlebih lagi soal nuansa dan rasa tadi tidak akan pernah sama. Jadi ngabuburit ala kami adalah beristirahat di rumah, memaknai setiap kebersamaan kami di sini, saling berbagi cerita setelah seharian sibuk dengan aktifitas masing-masing.

Saat Ramadhan yang paling dirindukan adalah berkumpul bersama keluarga besar, Berbuka bersama sambil bercerita dan bercengkrama, tarawih dan tadarus bersama, Mendengar adzan 5x sehari dan suasana saat anak-anak berkeliling membangunkan sahur. Rindu kami dibuatnya. Alhamdulilah meski jauhnya jarak dari tanah kelahiran tak akan menghilangkan rindu dan kenangan tentang Ramadhan di kampung halaman. Banyak hikmah yang kami dapat di sini, pelajaran berharga dari tanah rantau.
Marhaban ya ramadhan
Leiden, Belanda 1 Juni 2018

*william van oranye adalah seorang pejuang kemerdekaan Belanda yang wafat tahun 1584. Namanya kini dipakai sebagai sebutan lain dalam menyebut negara Belanda.

Penulis adalah kelahiran Pontang. Sejak 2016 lalu tinggal di Belanda, menemani suaminya Ade Jaya Suryani yang sedang menempuh studi S3 di Fakultas Humaniora, Universitas Leiden, Belanda.