Beranda Hukum 2 Pengedar Tramadol dan Hexymer Diringkus Polres Serang

2 Pengedar Tramadol dan Hexymer Diringkus Polres Serang

123
0
Ilustrasi - foto istimewa Laya Berita

SERANG – Personel Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Serang meringkus dua pengedar obat keras jenis tramadol dan hexymer di dua lokasi berbeda di wilayah Kecamatan Petir dan Baros, Kabupaten Serang.

Tersangka NEA (35) ditangkap di rumahnya di Desa Cirangkong, Kecamatan Petir. Sementara AM (35) ditangkap di rumahnya di Desa Tejamari, Kecamatan Baros.

Dari kedua tersangka pengedar obat keras ini berhasil diamankan sebanyak 1.648 butir, di antaranya sebanyak 1.198 butir pil hexymer dan 450 butir pil tramadol dan uang hasil penjualan sebanyak Rp431.000.

“Kedua tersangka merupakan satu jaringan dan ditangkap di 2 lokasi berbeda di Kecamatan Petir dan Baros pada Rabu (9/6/2021) malam dan Kamis (10/6/2021) dini hari,” kata Kapolres Serang AKBP Mariyono didampingi Kasat Resnarkoba Iptu Michael K Tandayu, Jumat (11/6/2021).

Kapolres menjelaskan pengungkapan kasus peredaran obat keras ini berkat informasi dari masyarakat tentang adanya peredaran narkoba di Desa Cirangkong. Berbekal dari informasi tersebut, tim Satresnarkoba yang dipimpin Ipda Maulana Ritonga langsung bergerak menyelidiki dan berhasil mengamankan tersangka NEA di rumahnya.

“Dalam penggeledahan ditemukan sekitar 198 butir pil hexymer yang diakui didapat dari tersangka AM. Berbekal dari pengakuan itu, petugas langsung bergerak dan berhasil mengamankan AM di rumahnya dengan barang bukti 1 pot hexymer berisi 1.000 butir dan tramadol sebanyak 45 kaplet atau 450 butir serta uang hasil jualan obat,” ucapnya.

Sementara Kasat Resnarkoba Iptu Michael K Tandayu menambahkan tersangka AM merupakan residivis yang pernah mendekam di Rutan Serang selama 18 bulan dalam kasus yang sama. Mantan warga binaan asal Aceh ini diketahui baru 3 bulan bebas dari hukuman dan kembali menggeluti bisnis lamanya.

“Dari informasi yang kami dapat, tersangka AM baru 3 bulan bebas dari Rutan Serang dan kembali melakukan bisnis narkoba,” ucapnya.

Michael menjelaskan tersangka mendapatkan obat keras ini dari seorang pengedar yang ditemui di sekitar Grogol, Jakarta Barat. Hanya saja, setiap berbelanja, tersangka membeli dari orang yang berbeda dan tersangka tidak mengetahui di mana tempat tinggalnya.

“Jadi tersangka mendapatkan obat hexymer dari penjual di sekitaran Grogol. Namun tersangka setiap kali belanja tidak pada satu penjual dan tidak tahu di mana tempat tinggalnya,” ucapnya.

Kasat menjelaskan dari 1 pot berisi 1.000 butir seharga Rp750 ribu yang dibeli dari Jakarta, tersangka bisa menjual seharga 2X lipat, begitupun dengan obat tramadol, beli Rp25 ribu/kaplet dijual seharga Rp50 ribu/kaplet.

(Dhe/Red)